Gambang Kromong Dan Wayang Cokek

Gambang Kromong Dan Wayang Cokek

Budaya-Tionghoa.Net | Anggapan  bahwa gambang kromong ini adalah kebudayaan Betawi ,  tidak tepat. Justru etnik Betawi-lah yang mengadopsi Gambang kromong dan Wayang Cokek yang asalnya dari kaum peranakan di Betawi, bukan sebaliknya ! Etnis Cina Bentenglah yang mempertahankan kesenian yang asalnya dari Jakarta , sewaktu masih bernama Batavia. Kesenian ini kemudian tersebar sampai ke Bogor, Tangerang dan Bekasi (Botabek).

Wayang cokek–sering disingkat “cokek” atau “wayang” saja–berasal dari akar kata “wayang” dan “cokek”. “Wayang” berasal dari kata bahasa Melayu “anak wayang” (aktor atau artis), kata ini masih dikenal di Semenanjung Melayu (Malaysia). “Cokek” berasal dari kata Hokkian “c’niou k’ek”, artinya “menyanyi”. Jadi dari namanya saja kita tahu bahwa Wayang Cokek bukan penari, tapi penyanyi!  Namun pada akhir abad ke-19, ketika Wayang Cokek juga bertugas menemani tamu menari saat menyanyikan lagu Dalem, maka lambat-laun orang beranggapan bahwa Wayang Cokek adalah “penari yang juga menyanyi”, bukan penyanyi lagi. Anggapan ini terus berlaku sampai sekarang.
Lagu-lagu gambang kromong tertua yang masih diketahui jejaknya sampai sekarang adalah lagu-lagu berirama instrumentalia, dan dikenal dengan nama lagu Pobin. Lagu-lagu ini masih memakai nama Cina, suatu bukti asal usulnya yang Cina: Kong Ji Liok, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Seng Kiok, Ma To Jin, Ban Kim Hoa, etc.

Lagu Pobin ini diikuti lagu gambang kromong generasi kedua, dikenal sebagai lagu dalem dan dinyanyikan–tidak diibingkan—oleh Wayang Cokek (artis penyanyi) dalam bahasa Melayu-Tionghoa: Pecah Piring, Mas Nona, Gula Ganting, Semar Gunem, Mawar Tumpah, Poa Si Li tan, Sip Pat Mo, Centeh Manis Berdiri, Gunung Payung, Tanjung Burung, etc.

Sekarang ini hanya tinggal wayang cokek senior Masnah alias Pang Tjin Nio yang mampu menyanyikan lagu-lagu klasik gambang kromong, itu pun dalam kondisi kesehatan yang tidak prima, karena usia beliau yang sudah lanjut. Cuma sayang, panjak (pemusik) gambang kromong yang sekarang masih mampu memainkan lagu Pobin dan lagu dalem tidak banyak lagi, kalau tidak mau dikatakan hampir habis.

Generasi ketiga dan terakhir, karena lagu yang dinyanyikan oleh Suhaeri Mufti-Lilis Suryani, Benyamin Suaeb-Ida Royani adalah lagu pop Betawi, bukan lagu gambang kromong–adalah jenis lagu Gambang Kromong yang disebut lagu sayur. Lagu-lagu seperti: Jali-Jali (Ujung Menteng, Pasar Malem, Jalan Kaki, Bunga Siantan etc), Stambul (Satu, Dua, Jengki, Lama, Sirih Wangi, dll), Kramat Karem (pantun dan biasa), Persi (rusak dan jalan), Centeh manis, Gelatik Ngunguk, Onde-Onde, Balo-Balo, Akang Haji, Renggong Manis, Renggong Buyut, Kue Mangkok, etc – termasuk kategori lagu pop gambang kromong ini.

Berbeda dengan lagu Pobin dan lagu dalem, lagu sayur bisa diibingkan. Di sinilah peran Wayang Cokek sebagai penyanyi berubah, penyanyi sekaligus penari. Peran sebagai penyanyi ini lama-kelamaan menghilang. Wayang Cokek sekarang hanya berfungsi sebagai penari. Untuk penyanyinya, sudah ada penyanyi khusus di panggung. Generasi sekarang hanya mengenal wayang cokek sebagai PENARI Gambang Kromong, kebanyakan mereka pun tidak lagi mampu menari dengan baik, tapi hanya menggeliat-geliatkan tubuh mereka macam cacing kena abu…

Photo courtesy of : http://kfk.kompas.com/kfk/view/87625

Nada dan Laras Gambang Kromong
Seperti halnya musik Tionghoa dan kebanyakan musik Timur yang lain, Gambang Kromong hanya memakai lima nada (pentatonis), yang masing-masing mempunyai nama dalam bahasa Tionghoa: liuh 六 = sol (g), u五= la (a), siang 上 = do (c), che 叉= re (d), dan kong工= mi (e) Tidak ada nada fa = f dan si = b seperti dalam musik diatonis, yakni utamanya musik Barat.
Larasnya adalah salendro yang khas Tionghoa, sehingga disebut Salendro Cina, atau ada pula yang menyebutnya Salendro Mandalungan, Dengan demikian, semua instrumen dalam orkestra Gambang Kromong dilaras sesuai dengan laras musik Tionghoa, yakni mengikuti laras Salendro Cina tadi.
Untuk memainkan lagu-lagu Pobin utamanya, para pemusik (panjak) Gambang Kromong awalnya harus mampu membaca not-not yang ditulis dalam aksara Tionghoa tersebut. Akan tetapi, kemudian, banyak panjak yang mampu memainkan lagu-lagu tersebut tanpa melihat notnya lagi karena sudah hafal.

Instrumen
Nama-nama instrumen yang kini masih dipakai pada orkestra Gambang Kromong:
a. Sebuah gambang. Instrumen ini terdiri atas 18 bilah yang terbuat dari kayu manggarawan. Ke-18 bilah gambang tersebut dibagi dalam 3 oktaf. Nada terendah adalah liuh 六 (g) dan nada tertinggi adalah siang 上 (c).
b. Seperangkat kromong yang terdiri atas 10 buah dalam dua baris. Yang terbaik terbuat dari perunggu, tapi ada pula yang terbuat dari kuningan. Baris luar (nomor 1, 2, dan seterusnya) terdiri atas nada-nada siang-liuh-u-kong-che (e-a-g-e-d) dan baris dalam (nomor 6,7, dan seterusnya): che-kong-siang-liuh-u (d-e-e-g-a). Ditabuh berbarengan antara baris luar dan baris dalam: 1-8, 2-10, 3-9, 4-7, dan 5-6.
c. Sebuah su-kong士工. Instrumen gesek berdawai dua, semacam rebab berukuran besar dan berasal dari Tiongkok ini dilaras dalam nada su (a) dan kong (e). Tabung di bagian bawah sering terbuat dari cangkang buah berenuk yang keras.
d. Sebuah the-hian 提弦. Instrumen gesek berdawai dua berukuran sedang ini dilaras dalam nada siang 上 (e) dan liuh 六(g).
e. Sebuah kong-a-hian 管仔弦. Instrumen gesek berdawai dua berukuran kecil tersebut dilaras dalam nada liuh 六 (g) dan che 叉 (d).
f. Sebuah bangsing (suling Tionghoa). Ditiup secara horisontal sejajar dengan mulut.
g. Dua buah gong perunggu atau kuningan yang digantung. Dilaras dalam nada siang 上 (e) dan siang上 (c).
h. Seperangkat gendang. Fungsi gendang sangat menonjol pada lagu-lagu Sayur yang mengiringi orang ngibing Cokèk.
i. Sebuah pan 板 (kecrèk). Terbuat dari bilah-bilah logam tipis yang dijadikan satu dan dipukul-pukul hingga menghasilkan bunyi crek-crek-crek.
j. Sebuah sio-lo 小鑼 (ningnong atau ningning). Terdiri atas dua buah piringan kecil (canang) perunggu atau kuningan pada sebuah bingkai yang bertangkai. Dipukul dengan penabuh logam secara berganti-ganti, misalnya kiri-kanan-kiri, sesuai dengan irama. Instrumen ini hanya ditabuh untuk lagu-lagu Pobin dan Mas Nona.

Disamping itu ada beberapa instrumen yang tampaknya sudah tidak dimainkan lagi:
a. Ho-siang 合上: instrumen gesek berdawai dua.
b. Ji-hian 二弦: instrumen petik berdawai dua.
c. Sam-hian 三弦: instrumen petik berdawai tiga.
d. Guèh-khim 月琴: semacam gitar berbentuk bulan berdawai dua.

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa